BLOGHANTU

Murka Ghostmaster

17 Mar 2010 - 12:53 WIB

ghostmaster

Rencana migrasinya para penghuni rumah hantu ke tempat baru terdengar oleh sang penguasa dunia hantu, Ghostmaster. Ia mendapatkan informasi itu dari jajaran hantu pengintai yang memang ditugaskan untuk memonitor gerakan Lembaga Bantuan Hantu (LBH) yang dimotori oleh Haker, hantu keren.

“Mau pindah kemana mereka?” Tanya Ghostmaster sambil mengelus jenggotnya yang kadang berwarna hitam, kadang keemasan seperti serabut jagung.

“Ng…nganu… kami belum tahu, Ghostmaster…” salah satu hantu pengintai menjawab sambil tetap menunduk, tak berani menatap mata sang penguasa.

“Bagaimana kalian ini. Ditugasi jadi pengintai itu bukan untuk memberikan informasi sepotong-sepotong. Harus lengkap! Kalau belum lengkap, jangan dilaporkan, Bego!”

“Kami mohon maaf atas kebegoan ini. Kami berjanji akan mencari tahu lebih banyak lagi!”

“Saya tidak doyan tahu!”

“Ng… Nganu…. Maksud kami, bukannya cari tahu… ng… nganu…”

“Kalau bicara yang jelas. Kamu ini pengintai! Jabatanmu tinggi! Jangan klemar-klemer seperti itu. Yang tegas!!!” Ghostmaster mengibaskan tangan kanannya ke arah pelapor yang langsung terhempas 8 kilometer di depan singgasana Ghostmaster dan mengepul menjadi asap. “Coba kamu yang jelaskan!” pinta Ghostmaster kepada hantu pengintai yang lain, yang berdiri gemetar.

“Begini, Ghostmaster. Menurut informasi yang kami dengar, mereka akan pindah dari Rumah Hantu karena rumah itu mau digusur oleh pengusaha yang akan mengubah total bangunan itu menjadi caf dan restoran…”

“Tak penting itu rumah mau dibuat jadi restoran, hotel, ataupun penjara. Saya perlu informasi, mereka mau pindah kemana?!”

“Wah, kalo lokasi pindahnya sih, saya belum tahu…” makin gemetar saja tubuh sang pelapor kedua.

“Guoblok! Hantu seperti kalian ini haram hukumnya bilang tidak tau atau belum tau!!!” Ghostmaster mengibaskan tangan kirinya ke arah hantu pelapor kedua. Dalam sekejap, “Plop!” hantu itu berubah menjadi kloset.

Hantu pengintai lainnya yang masih berdiri berjejer makin gemetar. Mereka takut salah bicara. Salah seorang dari mereka memberanikan diri maju selangkah dan bicara, “Maaf beribu ampun, Ghostmaster. Kami akan menangkap salah satu dari mereka sekarang juga untuk kita interogasi. Mohon izin dari Ghostmaster yang mulia dan selalu keren sepanjang masa…”

“Ya sudah, pergi sana. Kalau dalam 2×24 jam tak ada informasi yang jelas, kalian semua kukutuk jadi isi kloset!!!” Ghostmaster memerintahkan tanpa melihat para aparat pengintainya. Ia mengambil microphone, kembali melanjutkan karaokean. “musik! Tareeek!”

Tiga hantu pengintai melesat bersama menuju Rumah Hantu. Selama melayang bersama, mereka tak saling bicara. Mungkin masih memikirkan kutukan yang mereka terima jika tidak berhasil menjalankan misi. Sampai di depan Rumah Hantu, mereka merancang strategi.

“Kakak pertama, apa yang mesti kita lakukan sekarang?” tanya hantu pengintai yang paling muda.

“Kamu menyelinap dari lubang tiang septic tank, lalu cari tahu ada berapa hantu di dalam situ!”

“Siap!” Hantu pengintai yang paling muda itu melesat dan seperti asap masuk ke dalam lubang di tiang septic tank. Mestinya ia akan keluar dari kloset di kamar mandi.

13 detik kemudian hantu pengintai yang menerobos lubang septic tank kembali lagi.

“Bagaimana suasana di dalam? Ada berapa hantu?”

“Lapor, kakak pertama! Di dalam bau!”

“Hehehe… dasar plenyun! Kalau wangi mana mungkin aku suruh kamu! Bukan itu yang saya minta, tapi berapa hantu yang kamu lihat di dalam sana?”

“Nggak sampai, kakak pertama! Lubang menuju kloset itu mampet!”

“Mungkin harus pakai password?!” Hantu pengintai yang ketiga sumbang saran.

“Kamu bisa bongkar passwordnya, kakak kedua?” Hantu pengintai yang paling muda bertanya sambil menutup hidungnya.

“Wah, aku sudah lama nggak berkecimpung dalam dunia cracking. Sudah sangat lama sekali. Kamu taukan, aku mati sejak tahun 1997 waktu zaman windows 95 masih tenar.”

“Dulu kakak kedua, orang IT ya?” yang bertanya masih sambil menutup hidung.

“Lho, iya. Saya bekerja di perusahaan IT paling hebat di Jakarta. Saat itu customer kami adalah perusahaan multinasional.”

“Lumayan dong gajinya, kakak kedua?”

“Wah, lebih dari cukup. Apalagi saat itu masih banyak orang yang belum tahu tentang IT, jadi saya lebih leluasa menipu pelanggan. Pekerjaan yang saya selesaikan dengan modal 100 ribu, bisa dibayar sejuta!”

“Wuiiih, hebat juga kakak kedua ini. Andai kakak kedua tidak keburu mati, mungkin sudah jadi menteri kali ya?”

“Wah, iya. Itu mungkin sekali, karena saya kan jago mengelabui orang banyak. Itu modal dasar sebagai pejabat negara!”

“CUKUUUUP!!! Kalian berdua bego amat sih! Kita ini ditugaskan untuk menangkap salah satu hantu di sini. Bukan ngerumpi! Kalian mau jadi isi Kloset?!” Kakak pertama murka dan mengingatkan kutukan ghostmaster.

“Siaap!!!” Kedua partnernya langsung bersikap siap siaga.

“Hush! Diam! Lihat, ada satu hantu yang keluar rumah. Lihat itu! Ia mondar mandir saja, keluar masuk… mau apa ya dia? Apakah dia mendeteksi kehadiran kita?”

“Kita tak perlu tahu dia mau apa, kakak pertama. Lebih baik langsung kita tangkap saja!” balas kakak kedua.

“Kita harus tangkap dia hidup-hidup. Jangan seperti Densus yang main tembak saja. Sebab kita butuh informasi dari target!” hantu pengintai kakak pertama mengingatkan partnernya.

Ketiga hantu pengintai itu langsung melesat mengepung salah satu hantu yang keluar dari Rumah Hantu. Tanpa memberikan kesempatan untuk menyadari kehadirannya, mereka bertiga langsung menembakkan tali api yang melilit sang target dan melibat mulutnya sehingga tak bisa berteriak.

Ketika sang target lumpuh, ketiga hantu pengintai itu menggotong dan melesat menuju tempat interogasi. Siapakah hantu anggota LBH yang tertangkap itu?

[next : salah satu hantu yang ditangkap diinterogasi oleh para hantu pengintai, siapakah ia? apakah akan selamat atau malah menjadi korban?]


TAGS   ghostmaster / hantu pengintai / penangkapan /


Author

cuma hantu, tak lebih

Recent Post

Recent Comments

Archive