BLOGHANTU

Interogasi

18 Mar 2010 - 23:43 WIB

Ketiga hantu pengintai membaca targetnya ke sebuah tempat interogasi. Tempat itu amat sangat dirahasiakan. Hanya kalangan hantu pengintai saja yang tahu. Saya sendiri yang menulis cerita ini tak pernah diberitahu, dimana sebenarnya tempat interogasi itu.

Sang target dilesakkan ke dalam kotak kaca tembus pandang. Tali api yang melilit-lilit dan membekap sang target meledak dan berubah menjadi asap. Sang target tergeletak lemas tak sadarkan diri.

“Sadarkan dia, biar bisa lebih cepat kita interogasi!” perintah kakak pertama kepada kedua hantu pengintai yang menemaninya memburu target.

“Siap! Tapi… saya lupa manteranya, kakak pertama…” hantu pengintai yang paling muda menaikkan biji matanya, kedua alisnya menyatu, mengingat-ingat mantera untuk menyadarkan hantu yang pingsan.

“Sudah, mending kamu mandi saja! Dari tadi baumu bikin aku tak konsentrasi untuk mengingat mantra!” hantu kakak pertama memerintah juniornya agar membersihkan diri setelah berkutat di dalam septic tank rumah hantu.

“Kamu masih ingat mantra penyadar?” kali ini ia bertanya kepada hantu kakak kedua yang sedang membuka lembar-lembar catatan mantra.

“Uh, mana sih ini catatannya. Kan kita sudah lama tak pakai mantra penyadar, jadi aku lupa pada halaman berapa mantra itu tertulis di buku Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Mantra ini.”

“Coba kamu buka halaman 4583, mungkin pada Bab Penyergapan ada mantra penyadar. Cepat! Waktu kita tak lama!”

“Ya, sabar dikit dong. Tebal buku ini 194.517 halaman geto loch… santai aja boss!” hantu kakak kedua tidak cukup tenang mencari halaman yang diminta hantu kakak pertama.

“Keliwat santai, bisa jadi isi kloset kita nanti! Tak ingat kamu dengan kutukan ghostmaster?!” hantu kakak pertama tak ingin hidupnya berakhir dalam kutukan ghostmaster seperti rekan sejawatnya yang dikutuk menjadi kloset atau satu rekan lainnya yang terpental 8 KM dan langsung lenyap, mengepul menjadi asap. Pernah juga suatu ketika ghostmaster marah kepada satu kompi hantu yang tergabung dalam Pasukan Penggrebek. Karena salah menggrebek target, ghostmaster mengutuk mereka menjadi setumpuk kemenyan.

“Yuhuuu…. Ini dia, matra penyadar!” Hantu pengintai yang membuka lembaran buku Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Mantra.

“Cepat bacakan!” perintah Hantu kakak pertama yang sudah tak sabar ingin cepat menginterogasi targetnya.

Mereka berdua berdiri di depan kotak kaca dimana sang target tergeletak seperti tak bernyawa. Hantu kakak pertama berdiri di sebelah kanan hantu kakak kedua, yang memegang buku panduan… bersama-sama mereka membacakan mantra penyadar…

O le vittime del fuoco corda incantesimo, ottenere un grip perch vogliamo un interrogatorio!”

“Koq nggak ngaruh, bos?” tanya yang di sebelah kanan

“Coba sekali lagi!”

O le vittime del fuoco corda incantesimo, ottenere un grip perch vogliamo un interrogatorio!”

“Wah, bagaimana ini, koq nggak ngefek?!”

Hantu junior datang dengan pakaian baru yang lebih wangi, dengan aroma bunga kemboja. “Bagaimana sih kalian kakak-kakakku? Mantera itu harus dibacakan sendirian. Jika berdua, yang satu harus pakai suara dua. Jika bertiga, terpaksa juga harus pakai suara tiga.”

“Hlah, kayak grup acapela dong!”

“Memang begitu panduannya!”

“Ya sudah, yuk kita mulai bertiga. Aku suara satu, kamu suara dua, dan kau Junior, suara tiga!” merekapun mulai mengucapkan mantra…

O le vittime del fuoco corda incantesimo, ottenere un grip perch vogliamo un interrogatorio!”

Kontan tali api yang melilit sang korban berubah warna menjadi kebiru-biruan. Bias warnanya bermuara pada kepala sang korban. Mata sang korban mulai terbuka, mulutnya menganga. Iapun bergerak sendiri, duduk di dalam kotak kaca.

“Uh… dimana aku? Hei, siapa kalian?” kalimat pertama saat ia sadarkan diri.

“Kami hantu pengintai!” Kata hantu pengintai yang paling kecil.

“Bego! Jangan ngaku duluan! Kita yang mesti interogasi dia, bukan sebaliknya!” sergah hantu pengintai kakak pertama. “Siapa namamu!”

“Lha, kalian siapa? Kenapa saya ada di sini? Perasaan tadi saya mau… ngapain ya? Saya lupa…” jawab sang korban.

“Kamu kami tangkap karena kamu aktifis LBH Rumah Hantu! Jika kamu mau selamat, sebutkan namamu!”

“ng…. LBH itu apa sih?” tanya hantu yang masih melongo di dalam kotak kaca.

“Hlah, LBH itu Lembaga Bantuan Hantu yang dipimpin oleh Hantu Corleone, yang dijuluki Haker, alias Hantu Keren! Siapa namamu?!”

“Oh, ya, aku kenal Haker. Dia hantu yang baik sekali.”

“Ya, siapa namamu, bego!”

“Nama saya bukan bego!”

“Oke, kalau bukan bego, berarti siapa namamu?”

“Walah, aku sendiri lupa siapa sebenarnya namaku. Tapi teman-temanku sering memanggilku Hapi, alias Hantu Pikun…”

“Waduh! Bakalan repot nih…” Hantu kakak kedua berbisik kepada seniornya.

“Kita salah target. Mestinya jangan dia yang kita tangkap…”

“Kan kakak sendiri yang memerintahkan untuk menangkapnya.” Hantu pengintai junior mengingatkan.

“Udah deh, jangan ungkit-ungkit kesalahan. Kayak anggota Fraksi aja kamu, demen banget mengungkit kesalahan orang lain!” yang disalahkan tak terima.

“coba aja dulu kak, tanya. Siapa tau dia ingat apa yang kita perlukan!” saran hantu kakak kedua.

“Hei Hantu Pikun! Kami dengar kalian, penghuni Rumah Hantu mau pindah markas. Kalian mau pindah kemana?” tanya yang paling senior.

“Ehm… nah, betul itu. Kita mau pindahan. Kabarnya sih, minggu-minggu ini baru mulai pindah. Soalnya rumah kita mau dibeli sama pengusaha…”

“Itu kami sudah tau!!! Yang kami perlu tau, kalian mau pindah kemana?!!!” sang interogator mulai kesal.

“Wah, iya, ya… pindah kemana yang paling enak? Kalian ada usul?” tanya Hantu Pikun.

“Mampus deh kita! Waktu kita tinggal 10 menit lagi!” Hantu Pengintai Junior mulai cemas.

“Kenapa sih saya dikurung di sini? Kan gak bisa ngelonjor. Pegel nih..” Pinta Hantu Pikun.

“Ya sudah, kak. Buka saja kotak itu, siapa tahu ia mau bicara jujur!” saran hantu kakak kedua.

“Kalian tuh begonya kebangetan! Dia itu Hantu Pikun, mau dilepaskan juga percuma saja. Lha dia sendiri aja lupa siapa nama sebenarnya.”

“Tapi siapa tau kita bisa bujuk dia. Bisa jadi dia cuma pura-pura pikun. Ingatkah kakak dengan filosofi maling?”

“Bagaimana, tuh?”

“Mana ada maling yang mau ngaku maling…” kata hantu junior.

“Oh iya. Benar juga kamu. Oke deh kalo gitu, kita coba bujuk dia…”

“Duh kak. Waktunya tinggal 10 detik lagi nih?!”

“Hai Hantu Pikun, kami akan membebaskanmu. Tapi, jangan lupa, kamu harus ingat, kemana kalian akan pindah markas!”

…7..6..5..4..3..2..1….. “Plop!” “Aaaaaaaah” Ketiga hantu pengintai itu berteriak kesakitan. Dalam sekejap ketiga hantu pengintai itu berubah menjadi tokai. Itu merupakan sumpah Ghostmaster kepada mereka bertiga jika dalam waktu yang telah ditentukan tidak berhasil melaporkan tugasnya.

“Lho, kenapa mereka berubah jadi tokai?” Hantu pikun terkejut melihat perubahan ketiga hantu pengintai dalam sekejap. “Ooi…! Kalian jangan berubah gitu dong. Kan aku sendirian di sini… please dong ah!”

tai-jelmaan-hantu-pengintai


TAGS   ghostmaster / hantu pengintai / interogasi / hantu pikun /


Author

cuma hantu, tak lebih

Recent Post

Recent Comments

Archive