BLOGHANTU

Senjata Rahasia Intel

22 Mar 2010 - 09:30 WIB

firewhip

Japra melamun sendirian, karena kalau melamun berduaan, apalagi bareng Joker, bisa kacau. Sesekali ia melepas kacamatanya, mengusap kacanya dengan ujung kain putih yang selalu dikenakan saat ingin terbang. Japra suka sekali terbang meski ia tak bersayap. Setelah menilai kacamatanya jernih, kembali ia pasang di atas batang hidungnya yang kurang mancung.

“Kenape lu ngelamun aje dari tadi?” Joker membuyarkan lamunan

“Tak apa. Cuma sedang memikirkan, kenapa Hantu Pikun tak kelihatan selama 2 hari ini.” Japra kembali melepas kacamatanya, kali ini ia berikan cairan pengilap dari mulutnya “hah… hah”… lalu dilap lagi.

“emang ada urusan ape lu? Tumben-tumbenan nanyain si Pikun. Biasanye cuek aje lu.” Joker menelentangkan badannya di sebelah kaki kiri Japra.

“Dua hari yang lalu dia minta di antar ke Mall Ambassador, menjemput temannya yang mau bergabung dengan kita di Rumah Hantu.”

“Trus, lu kagak nganter?”

“Aku suruh dia tunggu sebentar di depan pintu, karena aku lupa menyimpan kacamata ini. Kira-kira 10 menit kemudian, kutemukan di atas wastafel. Lalu setelah itu aku keluar menyusulnya, tapi dia sudah tak ada.”

“Mungkin die rasa lu kelamaan, jadi si Pikun langsung merat sendirian dah ke Asembador.” Joker mengira-ngira.

“Aku sudah susul dia. Aku sudah sisir semua area Mall itu tapi tak ketemu.”

“Ah elu sih. Kan si Haker udah pesen sama kita semua, jangan sekali-kali ninggalin si Pikun sendirian. Jangankan ke Mall, lha di dalem rumah ini aje die sering nyasar. Lu inget kagak, waktu die mau ke kamar Haker, eh die malah ke kamar Kunti.”

“Ya, mungkin aku salah. Tapi tanpa kacamata ini, mana bisa aku jalan. Kamu tahu sendiri, mataku ini rabun parah. Mana bisa aku jalan tanpa kacamata.”

“Elu sih, kebanyakan baca buku di tempat gelap!”

“Kira-kira kemana ya?” Japra menyandarkan dagunya di atas lutut. Bibirnya manyun.

“Lu udah cari kemane aje?”

“Hanya di sekitar Mall itu lah. Kan dia janjian sama temannya di sana.”

“Yach, elu Pra! Kalo nyasar pegimane lu? Kalo Haker nanyain, musti bilang ape, lu?” Joker beranjak dari rebahnya, duduk memandang Japra.

Wuzhh….. tiba-tiba muncul Hantu Bomber. Dia langsung berdiri dengan sebuah benda di tangan kanannya. “Eh, kalian tahu tidak ini tali apa?”

“Hm… apa ya? Baru kali ini aku melihat tali seperti api.” Japra berdiri mendekati Hantu Bomber. Lagi-lagi ia mengusap kacamatanya dan mengenakannya kembali… “Wah… sepertinya… ah… tak sembarang Hantu bisa memiliki benda seperti ini. Kamu temukan dimana?”

“Yach, cuman tali api doangan. Gue juga liat. Pas di depan pintu kite kan?!” Joker tak beranjak dari duduknya.

“Ya, pas di depan pintu kita. Ini aneh. Siapa yang punya benda seperti ini?” Hantu Bomber penasaran.

“Lu tanya Haker aje, kan die paling banyak tau yang kite-kite kagak tau.” Saran Joker.

“Haker belum kembali. Ia dan Caspersky sedang ngisi pelatihan blog di Bandung.” Japra menerangkan.

“Kira-kira ini benda apa ya?”

“Yach, elu! Udah tau entu tali api. Masih bingung aje lu!”

“Coba kulihat dulu di Ensiklopedi Hantu.” Japra melesat menuju rak buku di ruang tamu Rumah Hantu. Ia mengambil sebuah buku yang cukup tebal berjudul Encyclopedia of ghost towns & mining camps of British Columbia. Terbitan Langley, B.C. : Stagecoach Publisher, tahun 1979. Ia susuri daftar isi tentang benda-benda inkonvensional di dunia hantu.

“Dapet?” Joker selalu tak sabar menunggu.

“Sebentar…” Mata Japra makin mendekat ke lembaran buku. “Halaman 324… sebentar…”

“Sebentar melulu!” sentak Joker.

“Tenang saja, Joker!” saran Bomber.

“Nah Ini dia!!!” Japra menemukan informasi yang dicari

“Pegimane lu! Nah ini dia kan cuman ada di Poskota! Mane ada di buku begituan!” Protes Joker.

“Ah, kamu taunya cuma Poskota! Bagaimana, Pra. Bacakan!”

“Sebentar….” Japra berusaha memahami teks yang sedang dibacanya.

“Sebentar mulu luh!” Joker makin tak sabar. Iapun beranjak mendekati Japra, mau ikut membaca. “Yach, bahasa Inggris. Pantes aje lama lu!”

“Bagaimana? Kamu paham kan?” Hantu Bomber juga mendekati Japra. Ia makin penasaran.

“Lihat ini! Gambarnya sama persis dengan yang kamu pegang. Benda ini adalah senjata rahasia yang biasa digunakan oleh para hantu yang bekerja di dinas intelijen. Benda ini biasa digunakan untuk menangkap hantu dan… wah! Jika ada hantu yang terlilit oleh tali api ini langsung tak sadarkan diri…. Lalu…. Wah! Untuk melepaskan diri dari jerat tali api ini, harus menggunakan mantra khusus yang hanya diketahui oleh kalangan intelijen!” jelas Japra.

“Ada teks mantranya tidak?” Bomber penasaran.

“Tak ada. Karena penulisnya, Thomas William Patterson, tak pernah bekerja di Dinas Intelijen. Lagi pula pasti tak akan boleh orang sipil mengetahui rahasia intelijen.” Jawab Japra yang manggut-manggut.

“Berarti…” Joker mencoba menyimpulkan terkait nasib Hantu Pikun “Wah, berarti si Pikun ditangkep intel dong!? Wah kacau dah!!!”

“Hantu Pikun? Kenapa dia?” Hantu Bomber belum tahu masalah yang sedang dipikirkan oleh Japra dan Joker.

“Yach, elu! Udah 2 hari si Pikun kagak keliatan batang idungnye! Lha, terakhir die janjian sama Japra di depan pintu. Nah, kan elu nemuin itu potongan tali api pas di depan pintu… bisa jadi die ditangkep Hantu Pengintainya Ghostmaster! Waaah berabe dah!” Joker menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.

“Oh, Hantu Pikun tertangkap? Memang ada kasus apa?” Bomber masih tak mengerti.

“Yach elu! Mending lu baca kisah Rumah Hantu yang kemaren deh. Ntar lu juga ngarti!” Joker memberikan bocoran.

“Ini bahaya. Kita harus cepat lapor ke Haker. Jangan sampai terlambat!” Japra menutup bukunya dan melemparkannya di meja sebelah kiri rak buku.

“Gimane ngelaporinnye? Emang lu tau nomor henpon Haker?” Joker garuk-garuk kepala.

“Tenang saja. Ada di BB-ku. Duh, tadi kutaruh dimana ya?” Japra keliling ruangan mencari-cari barang barunya.

“Yach, elu! Udah ketularan si Pikun lu! Belakangan ini gue liat lu sering lupa!” Sela Joker.



TAGS   joker / Japra / bomber / pikun / intelijen / tali api /


Author

cuma hantu, tak lebih

Recent Post

Recent Comments

Archive