BLOGHANTU

Santet by Request

29 Mar 2010 - 13:24 WIB

Mbah Karbol beraksi lagi.” Seru Joker kepada Haker dan Caspersky yang baru sampai di Rumah Hantu.

“Jadi kapan kita pindah rumah?” tanya Hantu Bomber seperti nada sela.

“Kenapa mbah Karbol?” agak malas Haker menjawabnya. Ia merebahkan badan pada sofa panjang berlapis kalep berwarna hitam. “Kita pindah besok. Tapi tidak ke kantor blogdetik. Aku dan Caspersky dapat rumah baru yang kami temukan saat perjalanan pulang tadi.”

“Mbah karbol nyantet bini orang.” Joker menjawab Haker

“Wah bagaimana rumahnya? Lebih bagus dari rumah ini? Dimana lokasinya? Memang tak ada yang menghuni rumah itu?” Hantu Bomber tak mau kalah. Ia memburu Haker dengan pertanyaan berantai.

“Eh Haker, baru datang. Aku baru mau menghubungimu.” Hantu Japra baru keluar kamar, mengenggam BB yang baru saja ia temukan.

“Bang Haker, aku langsung mengemasi barang-barang ya?” Caspersky tak menunggu respon Haker, langsung melesat menuju kamarnya.

“Aku jawab yang mana dulu nih?” Tanya Haker.

“Soal Mbah Karbol aje. Itu orang semangkin rese! Banyak orang yang dikibulin!!!” Joker memaksakan topiknya dibahas duluan.

“Siapa yang request santet ke mbah Karbol?”

“Itu tuh, perempuan cantik yang tinggal di Kompleks Bini Muda. Ia minta Mbah Karbol membuat mati rivalnya, bini tua yang cerewetnya terkenal seantero Jakarta. Tapi itu bukan topik penting, bahas yang lebih penting saja!” Japra menambah informasi plus menyatakan sikap. Matanya tetap tertuju pada wall facebook di BB-nya.

“Bukannya mbah Karbol itu sudah pernah bilang kapok sama kita?” Hantu Bomber tak menghiraukan saran Japra, seperti Japra bersikap tak hirau dengan hantu lainnya karena asyik fesbukan.

Haker duduk dari rebahnya. Ia menopang dagungnya dengan kepalan tangan kanan. Alisnya merapat, tanda ia sedang berpikir keras. Matanya terpejam, tanda ia sedang berusaha menyerap energi mbah Karbol untuk mendapatkan informasi yang benar.

Beberapa detik kemudian terdengar letupan kecil di atas asbak yang ada di atas meja tepat di depan Haker. Letupan itu berubah menjadi asap dan membentuk sosok mbah Karbol.

“Katanya kamu nyantet orang lagi, mbah?” Haker mulai menyidik

“ti…ti….ti…ddak…” asap yang membentuk profil wajah mbah Karbol itu menjawab dengan gagap.

“Saya dapat laporan, mbah Karbol dapat request santet dari seorang perempuan cantik dari Komplek Bini Muda?”

“bu… bu… bu….”

“Bu siape namenye tuh peremuan?” Joker nyelak.

“bu… bu… bukan!” Jawab mbah Karbol.

“Katanya kamu sudah kapok dan janji tak mau nyantet lagi. Apakah kamu masih kerja sama dengan Ghostmaster?”

“ti…ti….ti…dddaaaak… sa… sa….saya …cu…cu…cu…”

“Cucu siape? Cucu Haris? Jangan pitnah lu ye! Ape lagi mitnah orang baek-baek kayak diye, gue sedot ubun-ubun lu!” Joker selalu menyelak.

“Mending kamu diam saja, Joker.” Saran Japra yang menarik Joker agak menjauhi Haker.

“bu…bu… bukan cucu! Ta…ta…tapi cuma proyek saja. Dan sa…sa….saya tidak ada hubungan kerja sama apapun de…de…dengan Ghost….ghost….ghost…mas…mas…massterrrr.” Memang tiga bulan lalu Haker pernah menangkap Mbah Karbol yang sering menipu masyarakat sekitarnya dengan kemampuan kedukunannya. Ia melakukan pekerjaan sebagai dukun karena bimbingan sesat dari Ghostmaster. Sejak tertangkap oleh Lembaga Bantuan Hantu yang dipimpin Haker, Mbah Karbol meneken perjanjian untuk tidak lagi praktik dukun di beberapa kompleks yang tak jauh dari Rumah Hantu.

“Jadi informasi tentang santet by request itu tidak benar?” tegas Haker.

“Be…be…begini… itu proyek 378 saja. So…so…soalnya saya sudah tiga bulan tak bayar kontrakan. Nah… ke…ke…ke…kebetulan si Karyo, Satpam Komplek Bini Tua Indah Regency kasih job. Ada bi…bi..bini muda yang request santet buat saingannya. Ja…ja…jadi lumayan, dapat 40 juta… kan… bisa buat hidupi keluarga sa…sa…saya…” Haker percaya dengan jawaban mbah karbol. Karena setiap orang yang diserap dalam asap asbak milik Haker, tak bisa bohong. Mereka akan bicara apa saja yang mereka tahu.

“Oh, jadi kamu menipu. Jadi santet itu bohongan. Ya sudah, kalau begitu kamu rasakan saja resikonya sendiri. Bisa jadi yang request kecewa dan nanti urusanmu berlanjut di kantor Polisi. Ya sudah. Terima kasih ya, mbah!” Haker mengibaskan tangan kanannya menghapus asap berbentuk profil wajah mbah Karbol. Cesss…. Mbah Karbolpun lenyap.

“Oh jadi cuman bohong doangan. Hehehe… gile juga tuh dukun, masih demen nipu aje!” Joker tertawa ketika mengetahui kebenaran isu tentang mbah Joker.

“Lalu topik apa lagi yang hangat kali ini?” Haker bertanya kepada semua hantu yang ada di sekitarnya.

“Itu. Dari kemarin aku belum ketemu Hantu Pikun! Ada kemungkinan dia ditangkap Hantu Pengintai. Ini buktinya!” Japra menyerahkan seutas tali api kepada Haker.

“Hm… ya sudah. Kita atur nanti saja. Aku capek, mau tidur dulu. Lagi pula, sulit bagi para Hantu Pengintai menginterogasi Hantu Pikun. Lha dia saja sering lupa diri” Haker tersenyum lalu kembali tidur.


TAGS   mbah karbol / santet / 378 /


Author

cuma hantu, tak lebih

Recent Post

Recent Comments

Archive