BLOGHANTU

Interview with Bomber

15 Mar 2010 - 13:14 WIB

Rumah Hantu kedatangan tamu, seorang profesor yang sedang meneliti gerakan deradikalisasi di beberapa negara. Di sela-sela kunjungannya menemui para mantan aktifis gerakan radikal di Indonesia, Profesor Mark Woodward, menyempatkan diri untuk berdialog dengan hantu Bomber, yang pernah terlibat dalam beberapa aksi pemboman. Dialog tersebut dimediasi oleh ICDW, sebuah gerakan yang melakukan advokasi terhadap mantan aktifis gerakan radikal yang ingin kembali menjadi masyarakat biasa (baca: moderat).

Di sebuah tempat yang disepakati untuk dirahasiakan, wawancara dilakukan. Agar tidak grogi, hantu Bomber minta ditemani oleh Joker. Sebenarnya ia lebih suka ditemani Haker, tapi karena Hantu Keren itu juga sedang ada urusan ungsian dengan mas KW dari blogdetik, maka maka ia terpaksa rela Joker menemaninya.

“Apa yang membuat anda begitu yakin kalau yang anda lakukan itu merupakan jalan suci?” Profesor Mark membuka dialog dengan pertanyaan yang to the point kepada Hantu Bomber.

“Doktrin! Saya meyakini doktrin bahwa syahid adalah keabadian yang harus dijemput, bukan ditunggu.” Jawab hantu Bomber.

“Apakah doktrin tersebut anda rasakan kebenarannya?”

“Wah, pertanyaan ini sangat pribadi. Jadi saya akan menjawab sesuai dengan apa yang saya rasakan, dan belum tentu sama dengan mereka yang masih hidup, yang mempersiapkan diri sebagai pengantin menuju pernikahan abadi dengan bidadari dari surga.”

“Jadi?” profesor menagih jawaban hantu Bomber.

“Ya, seperti yang anda lihat sekarang, prof. Saya seperti ini. Tidak ada bidadari yang mau dengan saya.”

“Berarti doktrin tersebut tidak benar?”

“Saya tak bisa menyatakan tentang kebenaran doktrin tersebut. Mungkin kegagalan saya mendapatkan pinangan dari bidadari dikarenakan kesalahan saya sendiri.”

“Boleh tahu apa kesalahan yang membuat bidadari tak jadi meminang anda?”

“Beberapa saat sebelum melakukan aksi, hati saya penuh dengan kebencian. Kebencian kepada orang-orang yang ada di sekitar saya, yang saya anggap sebagai orang-orang kafir yang tak berguna hidup di dunia ini. Kebencian itu menyulut emosi saya yang merasa paling benar di antara mereka. Akhirnya, dengan semangat itulah saya melakukan bom bunuh diri dan menewaskan banyak orang-orang yang saya benci itu.” Jawab hantu Bomber sambil menunduk.

“Tak ada sedikitpun perasaan bahwa mereka yang menjadi korban adalah orang-orang yang tak bersalah. Paling tidak, mereka tak pernah punya masalah dengan anda?”

“Tidak. Saya tak berpikir seperti itu. Saat itu, saya menilai mereka adalah orang-orang tiada guna hidup di dunia. Mereka adalah orang-orang yang tak punya kesadaran untuk membela agamanya sendiri dari penjajahan kaki tangan zionisme internasional.”

“Ketika ingin melakukan aksi, apakah anda memikirkan, siapa yang akan menanggung beban hidup anak dan istri anda?” profesor beralih soal.

“Mereka saya serahkan pada Tuhan!”

“Tuhan anda suruh menanggung tanggung jawab anda terhadap anak dan istri?” profesor mengernyitkan dahi.

“Gile, lu! Lu kira Tuhan pembantu atawe bebisiter?!” tiba-tiba Joker nyeletuk.

“Ah kamu tak akan bisa mengerti, Joker. Kamu mana pernah mendapatkan doktrin syahid. Lagipula bukannya saya menganggap Tuhan seperti pembantu. Itu merupakan wujud kepasrahan total saya terhadap kekuasaan-Nya.” Hantu Bomber menerangkan.

“Ye, tapi tetep aje lu kelewatan. Kan yang mustinye ngurusin anak bini, ya suami! Enak aje lu nyuru-nyuru Tuhan, sementara lu ngincer bidadari. Terus lo yakin gak kalo bini lo minta sama Tuhan. Ntar jangan-jangan die malah kawin lagi.” Susah menghentikan Joker jika sudah mulai bicara.

“ng….” Bomber manggut-manggut.

“Begini saja. Maaf ya tuan Joker. Saya pikir anda tak perlu mengomentari apa yang dikatakan oleh tuan Bomber.” Profesor mengingatkan Joker.

“Yach, pegimane sih lu Bule. Tadi elu kan juga kaget waktu lu nanya Tuhan dianggap pembantu sama si Bomber… masa gue disalahin!” Joker tak terima diminta diam.

“Tujuan pertanyaan saya adalah untuk mendapatkan landasan teori dari keyakinan Bomber. Bukan untuk melemahkan dan menyalahkan posisinya.” Jelas profesor. “Baiklah, Bomber. Kita beralih ke topik lain saja.”

“Terserah profesor saja.” Bomber setuju untuk tidak membahas masalah tadi. Padahal ia juga sedang memikirkan apa yang dikatakan Joker.

“Bagaimana menurut anda, apakah program deradikalisasi yang dilakukan pemerintah akan berhasil?” tanya profesor.

“Wah, tak mungkin berhasil!”

Why? Kenapa? Apa alasan anda?”

“Hanya ada 2 alasan untuk itu. Pertama, cara represif yang diterapkan pemerintah justru menumbuhkan kekecewaan dan dendam bagi kalangan radikal. Coba anda lihat cara kerja Densus yang main tembak saja. Mereka tak menganggap hidup kami ini penting untuk memberikan informasi, jadi perburuan nyawa adalah satu-satunya cara untuk meluapkan kebencian mereka terhadap kami. Saya yakin, cara seperti itu malah menyuburkan aksi radikal. Mati 3 orang, akan tumbuh 30 orang militan!”

“Bisa dibilang, kebencian melawan kebencian. Anda membenci lalu meledakkan bom. Mereka membenci lalu membunuhi orang-orang seperti Anda. Well sulit sekali untuk berdamai jika keadaannya seperti itu.” Profesor geleng-geleng kepala.

“Ya gitu deh, benci lawan benci, yang jadi korban kite-kite, rakyat kecil yang kagak tau ape-ape!” Joker nyeletuk lagi.

“lalu apa alasan kedua?” profesor fokus kepada Bomber dan mengontrol diri untuk tidak menanggapi ocehan Joker.

“Kedua, ini hanyalah prasangka saya saja. Pemerintah tidak benar-benar berusaha menghentikan gerakan seperti ini. Karena jika gerakan radikal tak ada, mereka tak akan dapat anggaran proyek dong.”

“Maksud Anda, pemerintah hanya menjadikan program deradikalisasi sebagai usaha untuk mencari suntikan dana?”

“Ya, saya curiga seperti itu. Mereka mendapatkan support dari negara yang anti terhadap agama kami. Maaf, seperti negara Anda sendiri yang selalu ikut campur urusan dalam negeri negara lain, tuan profesor!” jawaban Hantu Bomber membuat sang profesor tersenyum dan manggut-manggut.

okay, fakta itu tak bisa saya bantah. Memang seperti itulah negara kami. Dan yang perlu Anda tahu, tidak semua orang Amerika sependapat dengan kebijakan politik negaranya sendiri. Sekarang saya ingin tahu, kenapa gerakan Anda begitu mudah dideteksi dan akhirnya dibungkam oleh pemerintah?” sang profesor beralih topik.

“Wah saya tak tahu itu. Memang saya sendiri belakangan ini baru berpikir, kenapa gerak-gerik bahkan rencana gerakan kami selalu terbongkar oleh penguasa.”

“Apa yang anda pikirkan tentang itu?”

“Yach, seperti sebuah permainan. Sebuah rekayasa!”

“Gila lu ye, saling bunuh-bunuhan lu bilang cuman maenan doang. Lu kagak pikirin rakyat yang kagak tau ape-ape kayak gue!” Joker nyeletuk lagi.

“Makanya, kalo gak tau apa-apa, diam aja, Joker!” hantu Bomber sewot.

“Pegimane gue bisa diem! Nah orang-orang kaya elu nganggep bunuhin orang, terus pemerentah bunuhin elu-elu pade, cuman sekedar maenan doang. Besukaan doangan! Siape yang kagak empet kalo tau kayak gini yang sebenernye!” Joker lebih sewot ketimbang Bomber.

“Yah, ente nggak ngerti juga! Susah menjelaskannya…” bomber enggan melayani Joker.

“Inaf.. inaf! Memang sayapun berpikir seperti itu. Tapi hal itu hanya kecurigaan saja. Masih perlu bukti yang menguatkan kecurigaan tersebut. Pertanyaan terakhir, apakah anda masih tetap merasa sebagai bagian dari radikalisme?”

“Wah, sekarang sih susah saya menjelaskannya.” hantu Bomber menghela napas panjang.

“Anda tetap ingin melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang memicu tumbuhnya gerakan radikal?”

“Dibilang menyesal, tak ada guna. Kalau saya tahu akhirnya seperti ini, hm… mending saya jualan mie ayam di depan sekolahan!” bomber menatap langit senja berawan tebal.

“Kalo sekarang sih, kite tetep punya musuh, prof!” Joker tak pernah bisa diam.

“Siapa musuh anda sekarang?” Akhirnya sang profesor terpancing juga dengan celetukan Joker.

Ghostmaster!” jawab Joker singkat sambil memanyunkan bibirnya.

“Who is? Ghostmaster?” profesor penasaran.

“Jiaaah, panjang banget kalo mao gue jelasin. Udah deh, elu mending ngurusin penelitian lu aje. Ntar lu malah kagak fokus lagi! Lagian kalo kepanjangan, kesian yang baca, tau!” Joker siap-siap mengajak bomber melesat meninggalkan sang profesor yang masih ternganga penasaran.

[next series : di luar sepengetahuan aktifis LBH, ternyata ghostmaster murka dengan rencana kepindahan para penghuni rumah hantu...]


TAGS   bomber / interview / mark woodward / icdw / teroris /


Author

cuma hantu, tak lebih

Recent Post

Recent Comments

Archive