BLOGHANTU

Hijab Cahaya

17 Feb 2011 - 00:26 WIB

BRUKK!!! “Aduh! Ada kerumunan orang di kompleks sebelah” tukas Hantu Joker yang melesat dari atas pohon kebanggaannya, dan nyusrug tepat di depan Haker yang sedang duduk santai, ngeteh di pelataran rumah hantu.

“Kerumunan apa? Ada demo?” tanya Haker yang terkejut karena nyusrugnya si Hantu Joker.

“Nggak tau. Cuma sepertinya bukan demo.” Jawab Joker sambil mengusap-usap jidatnya yang memar.

“Kalo nggak punya informasi jelas, ya jangan dilaporkan. Nanti saya salah menyikapinya. Kumpulkan informasi dengan lengkap dulu, baru laporan.” Saran Haker, sang ketua gank Rumah Hantu.

“Tapi sepertinya ada orang-orang yang biasa muncul di TV.”

“Di TV banyak orang, Joker. Orang yang mana maksudmu?”

“Yang biasa ngusir-ngusir hantu itu lho.”

“Lho, bukannya para ghostbuster itu sudah pada pensiun?” tanya Haker sambil menyeruput teh panas.

“Kan saya bilang seperti, bukan pasti. Bisa jadi memang bukan mereka…”

“Kalau cuma kira-kira, jangan dijadikan bahan laporan. Kebiasaan!” tegas Haker.

“Yaudeh, kan gue bilang cuma sepertinye. Lagian gue juga tau kalo pemburu hantu udah gak ada di TV. Sekarang kan mereka cuma lewat iklan di koran doangan.”

Tak berapa lama, muncul Hantu Japra. Tersenyum sempurna.

“Kenapa tiba-tiba kamu muncul sambil tersenyum? Habis happy-happy ya?” Tanya Joker.

“Hehe… nggak. Cuma habis iseng aja.” Jawab Japra sambil memperbaiki posisi kacamatanya di atas batang hidungnya yang mancung.

“Siapa yang kamu isengin?” tanya Haker.

“Itu tuh, di kompleks sebelah. Ada lelaki berjubah putih. Ia datang karena dipanggil tetangganya yang istrinya dianggap kemasukan setan.”

“Halah, hari gini masih ada yang kemasukan setan?” Haker menatap Japra.

“Kata suaminya sih gitu. Padahal cuma depresi aja. Sang istri itu teriak-teriak melulu memaki suaminya. Matanya mendelik terus.”

“Lalu diapakan oleh lelaki itu?”

“Ya, seperti biasa, dia merapal ayat-ayat Tuhan untuk mengeluarkan setan dari dalam jiwa perempuan bernasib sial itu.”

“Lalu tenang deh!” Celetuk Joker.

“Hush! Memangnya kamu lihat sampai selesai?!” Sanggah Haker.

“Kan biasanya begitu…” Joker menunduk, masih mengusap jidatnya.

“Ya, benar sih. Tak berapa lama, perempuan itu langsung tenang. Dan kembali tidur.” Japra melengkapi informasinya.

“Lalu apa hubungannya dengan keisenganmu?” Tanya Haker penasaran.

“Hehe… ya aku nggak ngapa-ngapain. Cuma nonton aja.”

“Oh, cuman iseng jalan-jalan doang? Kirain ngisengin orang lu!” Tukas Joker.

“Lalu kenapa kamu masih tersenyum sampai ke sini?” tanya Haker lagi. Ia hafal banget kalau Japra sering memikirkan sesuatu yang dilihatnya dan mengendap lama di pikirannya.

“Eh, ehm… cuma lucu aja lihat lelaki yang merasa jago mengusir setan itu. Koq ya dia nggak sadar kalau sebenarnya yang dia lakukan cuma menenangkan perempuan itu dengan doa yang mustajab. Padahal tak ada setan yang diusir. Lalu ia menasehati suami si perempuan itu agar menjalankan ibadah agama seperti dirinya. Ia menyatakan bahwa tak mungkin dirinya diganggu setan karena rajin beribadah.”

“Ah, cuman kayak gitu, lo senyam-senyum?” celetuk Joker.

“Hahaha… iyalah. Aku nggak nyangka lelaki yang rajin beribadah itu akhirnya tanpa sadar membanggakan laku peribadatannya di depan orang-orang yang berkerumun itu. Ia tak menyadari kalau telah terjebak dalam hijab cahaya.”

“Ah, apaan sih lu ngomong. Hijab cahaya pegimane?” tanya Joker. Sedangkan Haker hanya manggut-manggut.

“Susah deh nerangin ke kamu, Joker. Ilmumu belum sampe situ. Paling kamu cuma bingung aja.” jawab Japra.

“Nah, barusan itu salah satu hijab juga.” sambut Haker.

“Et dah. Apaan sih lu pade ngomongin hijab?” Joker makin bingung.

“Begini, Joker…” Haker baru mau menjelaskan.

“Gue bisanya begitu, gak bisa begini!” Joker ngelantur.

“Ah kamu. Kalau mau jelas, ya dengarkan dulu. Hijab itu adalah penghalang antara hamba dengan Tuhannya. Selama ini yang paling disadari orang adalah hijab kegelapan, seperti perbuatan dosa yang dilakukan hamba. Perbuatan dosa itu menjauhkan jarak sang hamba kepada Tuhannya. Hijab seperti itu mudah diidentifikasi oleh setiap hamba yang berusaha memperbaiki kualitas ibadahnya.” Haker menerangkan.

“Truss, ape lagi? Gimane tuh hijab… ape kate si Japra tadi?”

“Hijab Cahaya!” Jawab Japra.

“Nah, kalau hijab cahaya, justru sulit diidentifikasi. Sulit disadari. Karena biasanya hijab cahaya hanya berlaku bagi mereka yang rajin beribadah lalu mereka membangga-banggakan perilaku ibadahnya di depan banyak orang, dengan tujuan agar orang-orang itu menganggapnya orang yang baik, shaleh, dan takwa.”

“Oh, kaya riya gitu ye!” Joker manggut-manggut.

“Ya, riya adalah salah satunya.”

“Yang laen ape lagi?”

“ya begitu tadi. Merasa dirinya lebih baik, lebih shaleh, lebih takwa, lebih rajin beribadah, ketimbang orang lain.”

“Orang seperti itu maunya dianggap suci oleh orang-orang di sekitarnya.” Japra menambahkan.

“yoi, seperti yang dibilang japra itu. benar itu.” approve Haker.

“Terus kenape lu bilang si Japra juga terhijab tadi?” Joker memang kritis.

“Oh… tadi kan Japra bilang kalau ilmumu belum sampai ke pemahaman tentang hijab. Kamu hanya akan bingung saja jika memperbincangkan hal itu. Nah, itupun sebuah kesombongan dengan merendahkan derajat orang lain.”

“Ya, maafkan saya ya Joker.” Japra senyum tulus buat Joker.

“Ah, elu. gak masalah. yang kayak gitu gak gue pikirin. Emang gue kagak ngerti urusan begituan. Cuman pas elo bedua ngejelasin, baru deh gue ngatri.”

“Oke deh kalo gitu. Sekarang aku harus siap-siap pergi.” Haker menyudahi obrolan.

“Mau kemana, Ker?” tanya Japra.

“Ke suatu tempat, yang menurut informasi dari Hantu Perayu dan Caspersky, sempat terlihat ada Hantu Pikun. Aku mau bawa ia kembali pulang, bergabung bersama kita.”

“Oh, aku boleh ikut?” Japra meminta.

“Kalian berdua standby aja di sini. Kalau aku butuh kalian, baru menyusulku.”

“Pegimane mao nyusul? Lha kan kite bedua gak tau lu dimane, Ker?!” selak Joker.

“Ya, itu urusan nanti. Kan nanti aku bisa memberitahu kalian.”

“Oke deh, Heker. TTDJ Ya!”

Haker langsung melesat terbang menembus awan.


TAGS   ghostbuster / hijab cahaya / kemasukan setan / pemburu hantu /


Author

cuma hantu, tak lebih

Recent Post

Recent Comments

Archive