BLOGHANTU

Kembalinya si Hantu Pikun

24 Sep 2011 - 02:12 WIB

Base Camp Rumah Hantu tak seberapa ramai. Hanya beberapa manusia saja yang lewat di depannya. Kebanyakan orang lagi pada ngumpul di depan Museum Fatahillah, bersenda-gurau, bersepeda, main catur, pacaran, dan sebagainya. Keramaian di pusat wisata Kota Tua itu membuat Rumah Hantu menjadi semakin sepi malam ini.

Di ruang tamu Rumah Hantu, terlihat beberapa hantu penghuninya sedang santai. Hantu Perayu memegang jari kaki Kunti, yang minta tolong diguntingin kukunya. Kunti sendiri duduk di sofa sambil menjahit gaunnya yang sobek.

“Tak kamu ganti itu gaun? Sudah lapuk itu!” Sapa Hantu Perayu masih sambil menggunting kuku kaki kunti.

“Mana bisa kuganti. Sayang banget aku dengan Gaun ini. Kan gaun ini satu-satunya hadiah yang kudapatkan dari Ki Joko Bego.”

“Tapi, percuma saja kau jahit. Kalau kau pakai lagi, pasti ada yang sobek terus. Itu karena bahannya sudah lapuk.” Hantu Perayu masih berusaha menyarankan.

“Tak apa-apalah. Justru kalau banyak tambelan begini, kan penampilanku jadi tambah serem, hihihiiiiy…” Jawab Kunti sambil nyengir kuda.

“Ah, payah kali kau ini, Kunti! Tak sadar pula kau rupanya. Aku punya gaun masih bagus. Kau pakailah gaunku itu sementara. Dari pada kau cuma melilitkan badanmu dengan handuk. Puas sekali rupanya si Joker itu memandangi kamu sejak tadi!” Hantu Perayu baru menyadari kalau Joker (Hantu yang defaultnya ngejogrok di pohon angker) mencuri-curi pandang ke arah Kunti yang memang hanya berlapis handuk putih. Layaknya perempuan desa yang baru selesai mandi di sungai.

image from 3.bp.blogspot.com

image from 3.bp.blogspot.com

“Biarlah, Joker ngiler lihat tubuhku. Begitulah caraku menyiksanya. Cuma bisa lihat, tapi tak bisa menjilat, hihihiiiiiyyy….” Kunti tertawa sambil menatap sinis si Joker.

“Siape nyang ngeliatin elu! GR aje lu pade!” Joker tak mau dituduh semudah itu. Ia memalingkan wajahnya ke arah luar jendela. Lengannya mengelap iler yang menetes dari mulutnya.

“Ah, jangan mungkir kau Joker. Aku dari tadi tahu kalau kau ngintip Kunti sampai merem melek. Mengkhayal pula kau rupanya?!” Bentak Hantu Perayu.

“Enak aje lo kalo ngomong. Gue kagak ngintip! Lha, orang si Kunti ngejogrok pas di depan gue. Yaa… gimane gitu loh?!”

“Tuh, Kunti! Dengar itu cakap si Joker! Dia sebenarnya ngaku kalau sudah menikmati tubuhmu meskipun hanya dalam imajinasi.” Nasehat Hantu Perayu buat Kunti.

“Sudahlah, Kak! Biarlah, kan sudah kubilang, biarkan saja Joker begitu. Kan dia sendiri yang puyeng karena tak bisa melampiaskan perasaannya padaku hihihiiiiy…”

“Dasar kau hantu keras kepala! Terserahlah. Tapi kau ingat baik-baik. Pikirkan baik-baik tawaran gaunku itu. Kalau kau punya salinan gaun, pasti pakaianmu itu bisa lebih awet.”

“Ya sudah, kalau begitu kupinjam gaunmu, kak.”

“Pinjam?! Nggak lah! Maksudku, kamu beli itu gaunku, asli cinderamata dari bangsawan Inggris. Bolehlah kau cicil 12x! Murah!”

“Nggg….. nanti deh, aku pikir-pikir dulu. Soalnya aku memang butuh gaun baru buat ikut shooting iklan TV.”

“Nah gitulah! Ayo kita masuk kamar. Pakai gaunku. Pasti cocok sekali di badanmu.” Rayu Hantu Perayu.

Sekonyong-konyong, muncul Haker di depan semua penghuni Rumah Hantu. Ia menggendong sosok yang sudah tak asing lagi bagi mereka.

“Hantu Pikun!!! Dari mana saja kau?” sentak semua penghuni Rumah Hantu berbarengan. Bareng yang spontan, tidak direkayasa seperti akurnya para politisi di gedung parlemen.

“Eh, kalian masih ingat denganku?” cengir Hape alias Hantu Pikun.

“Akhirnya berhasil juga, kamu, Haker!” Puji Joker kepada Haker, sang pemimpin Rumah Hantu yang bertanggung jawab atas hilangnya salah seorang anggota rumah. Tidak seperti pemimpin di beberapa negeri yang tak peduli atas hilangnya orang-orang yang disebut sebagai aktifis ataupun kritis terhadap pemerintahnya.

“Untung saja kamu tak diracuni, macam Munir!” Seloroh Hantu Perayu kepada Hantu Pikun yang terkesima melihat seonggok mahluk di sebelahnya.

“Kenapa kamu bengong-bengong gitu?” sentak Kunti yang menjadi obyek perhatian Hantu Pikun.

“Eh, aku baru sadar kalo kamu itu cantik banget, Kunti.” Ini bukan rayuan, tapi kejujuran seorang hantu.

“ya iyalah, kan sekarang aku sudah kursus berpenampilan sama Hantu Pesolek.” Jawab Kunti.

“Eh, gimana, gimana pengalamanmu ditangkap oleh kaki tangannya Ghostmaster? Cerita dong!” tanya Joker

“Jiaahhh, kamu ini payah kali, Joker. Kalo mau tau pengalaman seperti itu, buka aja BlogHantu edisi kemarin-kemarin. Kan si MT udah ceritakan semuanya!” sambar Hantu Perayu sambil mendorong Kunti menuju kamar agar tak menjadi pusat pandangan teman-temannya yang mata bongsang.

“Gimana ceritanya kamu bisa menemukan si Hape?” Kini Joker bertanya kepada Haker alias Hantu Keren.

“Berdasarkan informasi yang kudapat dari Hantu Tak Penting, aku mencarinya di sekitar Istana Negara. Tapi ternyata ia sudah beranjak kembali nongkrong sama orang-orang BHI (Bunderan Hotel Indonesia-Kempinski) di depan Plaza Indonesia, barusan. Ya, langsung saja kutarik pulang.” Jawab Haker.

“Selamat kembali ke rumah, Hape!” Sambut Caspersky, Japra, Bomber, dan Hopeless, penghuni Rumah Hantu lainnya.


TAGS   kunti / Haker / ghostmaster / rumah hantu / bloghantu / hantu pikun / handuk /


Author

cuma hantu, tak lebih

Recent Post

Recent Comments

Archive